Minggu, 27 Januari 2013

Lima tips perusahaan sukses dan besar

Lima Tips Arrbey Agar Perusahaan Menjadi Sukses dan Besar

1

Tidak mudah menjadikan perusahaan menjadi besar. Tidak mudah juga menjaga perusahaan agar tetap besar. Lebih tidak mudah lagi membesarkan perusahaan besar agar berskala lebih besar lagi.
Melalui Riset Transforming Into Large Enterprises (TiiLEs) yang diungkap pada Indonesia Innovation and Competitiveness (IIC) Summit 2012, di Jakarta,  dikatakan bahwa ada lima langkah utama dan satu faktor pendorong yang harus dilakukan pelaku industri untuk menuju  industrinya sukses dan menjadi besar. Riset dilakukan terhadap 50 perusahaan go-public dan korporasi terbesar di Indonesia.
Handito Joewono, Chief Strategy Consultant Arrbey, penggagas IIC Summit, memaparkan lima tips dan satu faktor pendorong tersebut.
Pertama, market expansion. Untuk menjadi besar, perusahaan perlu masuk ke pasar baru dengan mengembangkan jangkauan pasar maupun memperdalam penetrasi di pasar tertentu. “Jadi sebuah industri jangan fokus di pasar tertentu saja. Kalau sudah ada pasar di dalam negeri dibuat lebih intens lagi. Dan juga masuk ke pasar ekspor,” kata Handito.
Selain itu, perusahaan juga harus berani mengembangkan produk sejalan dengan ekspektasi konsumen di pasar yang baru. Menggunakan merek berbeda-beda, termasuk meluncurkan premium brand atau merek baru untuk melayani segmen yang lebih rendah.
Kedua, diversifikasi bisnis. Pengembangan bisnis bisa dilakukan secara vertikal atau horisontal. Secara vertikal mengarah pada pengendalian supply chain network. Dapat dilakukan ke arah pemasok atau ke arah konsumen. Secara horisontal terkait upaya meningkatkan market share.
Ketiga, lanjut Handito adalah pengelolaan perusahaan atau corporate governance. “Seorang pionir sebuah industri memiliki peran sangat penting untuk industri dalam tahap skala kecil menuju menengah. Ada pengelolaan perusahaan yang baik. Perusahaan yang baik bukan hanya founder-nya yang memiliki jiwa enterpreneurship, namun semua level karyawannya harus memiliki jiwa tersebut,” ungkap Handito.
Keempat, perkembangna teknologi. Jika sebuah industri terkendala dalam tahap ini, diharapkan pemerintah dapat membantu dengan pemberian insentif pajak untuk kelangsungan teknologi sebuah perusahaan. “Korea Selatan negara paling besar yang memberikan insentif teknologi terhadap industri. Tidak heran kemajuan industrinya luar biasa. Tak heran jika Samsung sekarang head to head dengan Apple.”
Kelima, asset management. Sebuah perusahaan perlu menjaga aset dan mengelolanya dengan baik. Jadi tak hanya mengelola pendapatan saja. Asset dalam suatu perusahaan itu terbagi menjadi dua, tangible asset (aset yang dapat disentuh) dan intangible asset (aset yang tak dapat disentuh). “Tangible dalam bentuk mesin bangunan, sedangkan intangible, itu brand (merek).
Sementara faktor pendorong dari lima langkah tadi adalah inovasi. Adalah sebuah kewajiban menurut Handito untuk menerapkan suatu inovasi terhadap setiap industri. Bisa inovasi produk, proses, manajemen. “Google misalnya, dalam hal corporate governance, mereka melakukan inovasi dengan menempatkan kembali Larry Page, pemilik sekaligus pendiri, sebagai CEO saat perusahaan itu sedang segar bugar,” tambah Handito. (EVA)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar